Operasi

Operasi Midnight Hammer : Amerika Serang Jantung Nuklir Iran

Operasi “Midnight Hammer” Telah Mengejutkan Dunia Dengan Mencerminkan Sifat Senyap Namun Mematikan Dari Aksi Militer Tersebut. Menurut pernyataan resmi dari Gedung Putih, serangan ini bertujuan untuk “melumpuhkan secara signifikan kemampuan Iran dalam memperkaya uranium dan memproduksi senjata nuklir.” Presiden Donald Trump menyebutnya sebagai “operasi yang spektakuler dan berhasil total”, menyatakan bahwa fasilitas di Fordow telah “benar-benar dihancurkan.”

Serangan dilakukan dengan menggunakan bom penghancur bunker GBU-57 (Massive Ordnance Penetrator) yang dijatuhkan oleh B-2 Spirit stealth bombers, serta rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam. Target utama adalah fasilitas bawah tanah yang selama ini diyakini menjadi pusat pengayaan uranium Iran.

Fasilitas Strategis Jadi Sasaran

Situs Fordow yang terletak di bawah gunung batuan kapur di utara Qom dianggap sebagai simbol kekuatan dan ketahanan program nuklir Iran. Begitu pula Natanz, lokasi pengayaan uranium terbesar di negara itu, serta Isfahan yang memainkan peran penting dalam pemrosesan bahan baku nuklir.

Citra satelit yang beredar menunjukkan kerusakan parah di ketiga lokasi, dengan kawah besar dan tanda-tanda kehancuran struktural. Sumber dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa beberapa laboratorium dan sentrifugal rusak berat, meski hingga kini belum ada indikasi kebocoran radiasi ke wilayah sipil Operasi.

Iran: Tidak Akan Tinggal Diam

Kementerian Pertahanan Iran menanggapi dengan keras, menyebut serangan ini sebagai “tindakan agresi terang-terangan yang akan dibalas pada waktu dan tempat yang ditentukan.” Pemerintah Iran juga mengklaim telah memindahkan sebagian besar cadangan uranium sebelum serangan terjadi, dan menyebut dampak serangan “tidak akan menghentikan tekad bangsa.”Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan peningkatan kesiapan militer di berbagai pangkalan strategis Operasi.

Iran Memiliki Hak Penuh Untuk Membela Diri

Pemerintah Iran dengan tegas mengecam serangan udara Amerika Serikat yang menghantam tiga fasilitas nuklir utama Fordow, Natanz, dan Isfahan—dalam Operasi Midnight Hammer pada 22 Juni 2025. Dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui kantor berita IRNA, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan itu sebagai “tindakan agresi terang-terangan terhadap kedaulatan nasional Republik Islam Iran.”

Juru bicara pemerintah, Ali Bahadori Jahromi, menyatakan bahwa Iran Memiliki Hak Penuh Untuk Membela Diri dan akan menggunakan segala sarana yang sah untuk merespons serangan tersebut. Ia menyebut tindakan AS “tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga menempatkan stabilitas kawasan di ambang krisis besar.” Pemerintah Iran mengirimkan nota protes resmi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menuntut Dewan Keamanan menggelar sidang darurat.

Presiden Iran, Ebrahim Raisi, dalam pidato publik di Teheran, menyampaikan bahwa Amerika Serikat telah melewati “garis merah” dan akan menghadapi konsekuensi. “Bangsa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi militer,” ujar Raisi. Ia menegaskan bahwa program nuklir Iran “sepenuhnya untuk tujuan damai dan dalam pengawasan IAEA,” serta menuduh Washington sengaja mencari konflik untuk mendulang kepentingan politik domestik.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Iran mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara telah dikerahkan untuk menghadang serangan lanjutan. Iran juga meningkatkan kesiagaan pasukan Garda Revolusi di sepanjang perbatasan dan wilayah-wilayah strategis lainnya. Sumber militer Iran menyatakan bahwa sebagian besar aset penting telah dipindahkan sebelum serangan terjadi, dan kerusakan yang ditimbulkan dianggap “terkendali.”

Iran juga berusaha membangun dukungan dari sekutu-sekutunya di kawasan. Dalam pertemuan darurat dengan utusan dari Suriah, Lebanon, dan Irak, para pejabat tinggi Iran menyerukan solidaritas regional dan menyalahkan Amerika Serikat atas eskalasi ketegangan.

Operasi Midnight Hammer Mengguncang Panggung Internasional

Serangan mendadak Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran dalam Operasi Midnight Hammer Mengguncang Panggung Internasional. Ketegangan yang selama ini membayangi kawasan Timur Tengah kini meledak ke permukaan, memicu gelombang kecaman dan kekhawatiran dari berbagai negara serta organisasi internasional.

Rusia menjadi negara pertama yang secara terbuka mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Rusia, Moskow menuduh Amerika Serikat “bertindak sepihak dan sembrono” yang berpotensi memicu perang regional besar. Presiden Vladimir Putin memperingatkan bahwa langkah AS adalah tindakan provokatif yang “membuka kotak Pandora” di Timur Tengah dan bisa memicu konsekuensi yang tidak terduga.

China, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, menyerukan penahanan diri. Dan menyayangkan keputusan AS yang dianggap bisa menghancurkan fondasi diplomasi nuklir. Beijing menilai bahwa “solusi militer tidak akan pernah menghasilkan perdamaian jangka panjang. Dan meminta agar semua pihak kembali ke jalur dialog.

Uni Eropa menunjukkan sikap yang lebih moderat namun tetap prihatin. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell. Menyatakan bahwa tindakan militer AS berisiko “menggagalkan seluruh upaya diplomasi internasional. Yang telah dibangun bertahun-tahun melalui JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action).” Negara-negara seperti Jerman dan Prancis menyatakan kekecewaannya dan menyuarakan kekhawatiran atas potensi retaliasi dari Iran.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyampaikan keprihatinan serius. Dan meminta sidang darurat Dewan Keamanan untuk membahas eskalasi yang dinilai bisa mengancam perdamaian global. PBB menyerukan kedua belah pihak untuk menghentikan semua bentuk agresi dan memulai kembali dialog yang inklusif dan transparan.

Rusia Mengecam Aksi Militer Tersebut, Memperingatkan Bahwa Serangan Semacam Ini Berisiko

Langkah Washington memicu gelombang reaksi keras dari komunitas internasional. Rusia Mengecam Aksi Militer Tersebut, Memperingatkan Bahwa Serangan Semacam Ini Berisiko “memicu bencana regional”. China dan beberapa negara Eropa menyerukan penurunan tensi dan kembali ke jalur diplomatik. Sekretaris Jenderal PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini dan mendesak kedua pihak untuk menahan diri. “Dunia tidak bisa menyaksikan satu lagi perang terbuka di Timur Tengah,” tegasnya dalam konferensi pers di New York.

Serangan ini menandai titik balik paling tajam dalam ketegangan AS-Iran sejak penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir (JCPOA) tahun 2018. Meski AS menegaskan operasi ini hanya bertujuan defensif, para pengamat menilai langkah tersebut. Sebagai sinyal bahwa diplomasi telah gagal dan opsi militer kini menjadi pilihan utama Washington.

Sementara itu, media pemerintah menayangkan rekaman fasilitas nuklir yang disebut masih berdiri dan menuduh media Barat membesar-besarkan dampak serangan. Retorika yang muncul dari berbagai pejabat Iran mengisyaratkan bahwa balasan militer mungkin akan dilakukan, meskipun waktunya belum diumumkan. Kesimpulannya, tanggapan resmi Iran menunjukkan sikap keras, defensif, dan penuh kemarahan. Serangan ini telah memperkuat narasi nasionalis di dalam negeri. Dan menempatkan Iran dalam posisi bersiap untuk konfrontasi jangka panjang, baik secara militer maupun diplomatik.

Sementara itu, negara-negara di kawasan Timur Tengah terbelah. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab masih berhati-hati dalam memberikan komentar. Meski sebagian analis menyebut kedua negara itu diam-diam mendukung tindakan AS demi membatasi pengaruh Iran. Sebaliknya, Irak dan Suriah secara terbuka mengecam aksi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan regional. Kesimpulannya, reaksi dunia terhadap Operasi Midnight Hammer didominasi oleh nada kecaman dan kekhawatiran. Serangan ini dinilai bukan hanya sebagai serangan terhadap Iran. Tetapi juga sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan, masa depan diplomasi nuklir. Dan keamanan internasional secara keseluruhan Operasi.