
Sahkah Stasiun TV Sajikan Tontonan Legenda RI Dengan AI?
Sahkah Stasiun TV Sajikan Tontonan Legenda RI Dengan AI Dan Banyak Sekali Kecaman Yang Justru Datang Mengenainya. Dalam beberapa pekan terakhir, Stasiun TV Indonesia kembali memasuki babak baru yang tak terduga: hadirnya tontonan legenda nusantara yang sepenuhnya di garap oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Meski terlihat menjanjikan sebagai inovasi teknologi. Namun respons publik justru menunjukkan gelombang kritik yang kuat di berbagai platform media sosial. Penggunaan AI dalam konteks budaya dan narasi lokal ini memicu perdebatan tentang etika, estetika. Serta esensi kreativitas manusia dalam seni audiovisual.
Awal tahun 2026, Stasiun TV Trans7 meluncurkan sebuah program berjudul Legenda Bertuah. Dan yang di promosikan sebagai tayangan televisi pertama di Indonesia yang sepenuhnya memanfaatkan teknologi AI. Tentunya mulai dari pengembangan cerita, penulisan naskah, pembuatan suara, hingga visualisasi karakter dan latar belakang. Cerita-cerita yang diangkat adalah narasi populer dari legenda Nusantara seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Roro Jonggrang, Timun Mas, dan banyak lainnya. Kemudian yang d ikemas dalam format sinematik bergaya fantasi drama. Tujuannya di klaim untuk menarik minat generasi muda sekaligus melestarikan kisah rakyat yang kaya pesan moral dan kearifan lokal.
Estetika Visual Hingga Kekosongan Emosi
Salah satu kritik terbesar yang di arahkan kepada tayangan Legenda Bertuah adalah soal Estetika Visual Hingga Kekosongan Emosi. Banyak netizen mengeluhkan gerakan karakter yang tampak kaku, ekspresi wajah yang tidak realistis. Serta nuansa cerita yang terasa seolah “kosong” dari jiwa seni. Fenomena seperti uncanny valley di mana karakter digital tampak aneh dan tidak benar-benar hidup. DAn yang menjadi salah satu alasan utama penonton merasa tidak nyaman. Kritik ini memperlihatkan bahwa meskipun AI dapat menghasilkan visual berdasarkan data besar.
Kemudian sentuhan kemanusiaan tetap sulit digantikan oleh teknologi semata. Lebih lanjut, sejumlah penonton berpendapat bahwa legenda Nusantara memiliki nilai budaya dan emosional yang tinggi. Sehingga memaksa narasi tersebut hanya melalui algoritma mesin AI di anggap seperti mereduksi esensi kisah rakyat itu sendiri. Ada kekhawatiran bahwa AI tidak dapat menangkap kedalaman budaya, nuansa lokal, maupun cara tradisional bercerita yang sudah turun-temurun. Tanggapan semacam ini menggarisbawahi bahwa meskipun teknologi berkembang. Namun bukan berarti semua hal layak di serahkan kepada mesin tanpa pengawasan kreatif dari manusia.
Kekhawatiran Terhadap Industri Kreatif Dan Tenaga Seni
Selain kritik estetika, kontroversi ini juga menyentuh isu yang lebih luas: Kekhawatiran Terhadap Industri Kreatif Dan Tenaga Seni. Dengan program yang sepenuhnya diproduksi oleh AI, ada anggapan bahwa kebutuhan terhadap animator, aktor, penulis naskah, serta pengisi suara manusia bisa berkurang drastis. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa otomatisasi total dalam ranah seni visual bisa menciptakan preseden buruk yang agresif dalam menyusutkan lapangan kerja bagi talenta lokal. Kritik seperti ini muncul bukan semata soal teknik. Akan tetapi juga menyangkut masa depan profesi kreatif di Indonesia yang selama ini hidup dari keunikan karya manusia. Perdebatan ini menunjukkan bahwa publik tidak hanya mempertanyakan soal kualitas, tetapi juga mencermati konsekuensi sosial dan ekonomi dari penggunaan teknologi AI yang tanpa batas. Serta yang termasuk bagaimana stasiun televisi seharusnya mempertimbangkan dampaknya terhadap komunitas kreatif yang lebih luas.
Batas Di Balik Kemajuan: Refleksi Dan Masa Depan Hiburan AI
Akhirnya, pertanyaan besar yang muncul dari kontroversi ini adalah: Batas Di Balik Kemajuan: Refleksi Dan Masa Depan Hiburan AI? Jawabannya tak sesederhana ya atau tidak. Di satu sisi, inovasi seperti Legenda Bertuah bisa membuka jalan bagi eksperimen teknologi yang menarik dan memberikan pengalaman baru bagi penonton masa kini. Di sisi lain, respons negatif publik menegaskan bahwa budaya. Terutama yang begitu lekat dengan nilai sejarah dan emosional. Karena tidak serta-merta bisa di seret ke dalam ranah komputasi tanpa menyisakan ruang bagi kehadiran manusia dalam proses kreatifnya. Sebagai titik awal untuk menyikapi fenomena ini, perlu di pahami bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti nilai seni yang tak tergantikan. Kontroversi seputar program AI di televisi Indonesia ini menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan teknologi. Dan sentuhan manusia dan penghormatan terhadap karya kreatif tetap menjadi aspek fundamental dalam industri hiburan yang bermakna terutama di Stasiun TV.