Kisah Hebat Satpam Bank: Koleksi Gelar Sambil Jaga Pintu

Kisah Hebat Satpam Bank: Koleksi Gelar Sambil Jaga Pintu

Kisah Hebat Satpam Bank: Koleksi Gelar Sambil Jaga Pintu Dan Ada Cita-Cita Yang Masih Tertunda Dari Sosok Anam. Kisah Hebat datang dari seorang anggota satuan pengamanan bernama Khoirul Anam (28). Di tengah rutinitasnya menjaga keamanan sebuah bank BUMN di Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dan Anam justru mencatatkan prestasi tingkat nasional. Ia resmi meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI. Terlebihnya sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak. Dan menjadi sebuah pencapaian yang jauh dari bayangan banyak orang tentang profesi satpam. Penghargaan tersebut di terima Anam pada Jumat (30/1/2026). setelah ia berhasil menerbitkan 13 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional. Prestasi ini bukan hanya tentang jumlah tulisan, tetapi juga tentang ketekunan, disiplin. Dan keberanian bermimpi besar meski berada dalam keterbatasan dari Kisah Hebat sosoknya ini.

Berawal Dari Buku Mutasi, Tumbuh Jadi Penulis Ilmiah

Minat Anam terhadap dunia tulis-menulis tidak muncul secara instan. Awalnya, ia hanya menulis buku mutasi satpam. Dan sebuah catatan internal yang biasa digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Namun, dari kebiasaan sederhana itu, muncul dorongan untuk mengembangkan kemampuan menulisnya. “Awal mula saat saya menekuni menulis itu berawal dari menulis buku mutasi satpam. Dari situ ada keinginan untuk mengembangkan karya tulis di saat waktu-waktu luang,” ujar Anam. Waktu istirahat, sela tugas, hingga malam hari setelah bekerja. Kemudia ia manfaatkan untuk membaca jurnal dan menyusun tulisan ilmiah. Langkah kecil tersebut perlahan membawanya masuk ke dunia akademik. Ia belajar secara otodidak, memahami kaidah penulisan ilmiah. Terlebih hingga akhirnya berani mengirimkan tulisannya ke berbagai jurnal.

Merantau Dengan Modal Minim, Membawa Mimpi Besar

Perjalanan hidup Khoirul Anam penuh dengan cerita perjuangan. Pada 2018, ia memutuskan merantau dari kampung halamannya di Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta. Modalnya kala itu hanya Rp 1 juta. Tentunya tanpa kepastian pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman. Ia kemudian bekerja sebagai satpam, sebuah profesi yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab. Dari lingkungan kerja inilah, ketertarikannya terhadap pendidikan tinggi mulai tumbuh. Diskusi dengan rekan kerja memantik pertanyaan tentang masa depan dan tujuan hidup. “Jadi dari situ saya berpikir ya, jadi saya nantinya di umur 28 tahun, saya sudah setidaknya memiliki satu gelar gitu,” ucap Anam. Tekad itu berbuah manis. Di usia 28 tahun, ia telah mengantongi tiga gelar akademik, dua gelar sarjana dan satu gelar magister. Terlebihnya menjadi sebuah capaian luar biasa bagi seorang perantau dengan keterbatasan ekonomi.

Kendala Biaya Tak Menghalangi Langkah

Di balik deretan prestasi tersebut, Anam tidak menampik adanya kendala besar yang harus ia hadapi, terutama soal finansial. Dan biaya publikasi jurnal dan penerbitan buku menjadi tantangan tersendiri baginya. “Kalau saya sih jujur dari segi pendanaan untuk publikasinya sih. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya,” ujarnya. Untuk menyiasatinya, Anam harus cermat memilih media publikasi yang sesuai dengan kemampuan finansialnya. Ia juga belajar mengatur keuangan dengan disiplin. Kemudian menyisihkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai satpam demi satu tujuan: terus berkarya dan belajar. Bagi Anam, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Tetap Jadi Satpam, Menanti Takdir Sebagai Pengajar

Meski telah meraih rekor MURI dan memiliki tiga gelar akademik. Dan Anam masih setia menjalani profesinya sebagai anggota satuan pengamanan. Ia tidak merasa rendah diri, justru bangga karena pekerjaannya menjadi saksi perjalanan panjang menuju mimpi besarnya. Anam mengungkapkan bahwa cita-citanya adalah menjadi pengajar. Tentunya baik sebagai guru maupun dosen.

Namun, ia menyadari jalan menuju dunia pendidikan formal tidak selalu mudah. “Tapi mungkin karena belum rezeki. Kemudian yang agak susah juga untuk masuk ke dunia tersebut,” tuturnya dengan jujur. Kisah Khoirul Anam menjadi bukti bahwa profesi tidak membatasi mimpi. Dengan ketekunan, keberanian belajar, dan semangat pantang menyerah. Karena seorang satpam pun mampu menorehkan prestasi nasional dan menginspirasi banyak orang. Jadi ceritanya mengajarkan bahwa pintu masa depan bisa di buka oleh siapa saja. Karena selama ada kemauan untuk terus melangkah.

Jadi itu dia satpam bank yang koleksi gelar sambil jaga pintu yang jadi Kisah Hebat.